CILEUNGSI — Tiraifaktanews.my.id Nama Susanah (38), warga Kampung Ciuncal, Desa Situsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, menjadi perhatian publik setelah namanya disebut Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan.
Dalam pidato tersebut, Susanah disebut sebagai pekerja yang memperoleh upah Rp700 ribu per kilogram dari pekerjaan mengupas bawang. Pernyataan itu kemudian ramai diperbincangkan di media sosial karena nominal yang disebut dinilai sangat besar.
Namun, keterangan keluarga Susanah di lapangan menunjukkan informasi yang berbeda.
Menurut keluarga, Susanah bukan bekerja sebagai buruh pengupas bawang. Ia sehari-hari bekerja menjahit kain majun dengan upah sekitar Rp700 per kilogram.
Dari pekerjaan tersebut, Susanah rata-rata hanya memperoleh penghasilan sekitar Rp14 ribu per hari.
Kakak ipar Susanah, Wina, mengatakan kondisi ekonomi keluarga Susanah memang cukup terbatas. Suaminya bekerja sebagai kuli bangunan dengan penghasilan yang tidak tetap, bergantung pada ada atau tidaknya pekerjaan.
"Kalau setahu saya ya, yang namanya ekonomi dia kurang ya. Karena memang kan apalagi suaminya kan namanya kuli bangunan, kalau ada pekerjaan dia bekerja. Kalau tidak ya tidak bekerja," kata Wina kepada Awak media di kediaman Susanah, Minggu (16/8/2026).
Susanah juga masih harus memenuhi kebutuhan dua anaknya yang sedang bersekolah. Kondisi tersebut membuat keluarga mengandalkan pekerjaan harian untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Bekerja Menjahit dari Rumah
Sehari-hari, Susanah bekerja menjahit kain majun sejak pagi hingga siang. Aktivitas tersebut dilakukan bersama sejumlah anggota keluarganya di rumah.
Kediaman Susanah sekaligus menjadi tempat mereka mengerjakan proses produksi. Di halaman rumah terlihat tumpukan kain majun serta sebuah mesin jahit.
Sejumlah anggota keluarga mengerjakan bagian masing-masing, mulai dari menyusun hingga menjahit kain.
Wina menjelaskan bahwa pekerjaan menjahit kain majun tersebut juga dilakukan oleh anggota keluarga lainnya.
"Di sini dari ujung sana keluarga semua. Ya semuanya sama sih di menjahit gini. Kalau saya sendiri ya bagian menyusunnya," ujarnya.
Dengan sistem pembayaran berdasarkan berat hasil pekerjaan, Susanah disebut mendapatkan upah sekitar Rp700 per kilogram.
Dalam sehari, hasil yang diperoleh tidak banyak sehingga penghasilan rata-rata yang diterima Susanah sekitar Rp14 ribu.
Tambah Penghasilan dengan Mencuci Ompreng MBG
Untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, Susanah juga mengambil pekerjaan tambahan di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di sana, Susanah bekerja sebagai pencuci ompreng atau wadah makanan. Ia berangkat menggunakan sepeda motor dan biasanya pergi bersama anggota keluarga lainnya.
Wina mengaku belum mengetahui secara pasti besaran upah yang diterima Susanah dari pekerjaan tersebut.
"Ke MBG-nya setiap hari pakai motor berangkatnya dari sini. Bareng berdua sama saudara juga," katanya.
Pekerjaan tambahan tersebut dilakukan Susanah untuk menambah pemasukan di tengah penghasilan keluarga yang terbatas.
Pernyataan Rp700 Ribu per Kilogram Jadi Sorotan
Pernyataan Presiden Prabowo mengenai seorang pekerja bernama Susana yang disebut mendapatkan Rp700 ribu per kilogram dari mengupas bawang kemudian menjadi perbincangan luas.
Publik mempertanyakan besaran nominal tersebut karena dinilai tidak lazim jika dibandingkan dengan informasi mengenai upah pekerja harian pada umumnya.
Sementara itu, keluarga Susanah di Cileungsi memberikan keterangan bahwa pekerjaan yang dijalani Susanah adalah menjahit kain majun dengan upah sekitar Rp700 per kilogram, bukan mengupas bawang dengan bayaran Rp700 ribu per kilogram.
Perbedaan informasi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai sumber data yang menjadi dasar penyebutan kisah Susanah dalam pidato Presiden.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat penjelasan resmi yang secara khusus mengklarifikasi asal-usul angka Rp700 ribu per kilogram yang disebut dalam pidato tersebut.
Karena itu, informasi mengenai nominal tersebut perlu ditempatkan sebagai pernyataan yang disampaikan Presiden, sementara kondisi pekerjaan dan penghasilan Susanah berdasarkan keterangan keluarganya menunjukkan fakta yang berbeda.
Potret Perjuangan Pekerja Informal
Terlepas dari perbedaan informasi tersebut, kehidupan Susanah menggambarkan perjuangan pekerja informal dalam memenuhi kebutuhan keluarga.
Dengan penghasilan menjahit yang rata-rata hanya sekitar Rp14 ribu per hari, ditambah pekerjaan mencuci ompreng di dapur MBG, Susanah tetap berusaha membantu perekonomian rumah tangga.
Suaminya yang bekerja sebagai kuli bangunan juga memiliki penghasilan yang bergantung pada ketersediaan pekerjaan.
Bagi keluarga Susanah, setiap pekerjaan menjadi penting untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Kisah tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya akurasi dan verifikasi data, terutama ketika kisah kehidupan masyarakat disampaikan dalam forum kenegaraan dan kemudian menjadi konsumsi publik secara luas.
(Lenie Tanjung)