KARAWANG — Tiraifaktanews.my.id Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang terus melakukan penanganan terhadap dampak kekeringan yang melanda sejumlah wilayah. Hingga saat ini, sebanyak 92 ribu liter air bersih telah disalurkan kepada masyarakat di 11 desa yang tersebar di lima kecamatan.
Penanganan krisis air bersih tersebut dilakukan melalui konsep kolaborasi pentahelix dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, serta berbagai unsur lainnya. Salah satu pihak yang turut memberikan dukungan adalah Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ).
Bantuan air bersih tersebut disalurkan secara bertahap sejak 20 hingga 31 Agustus 2026. BPBD Karawang juga menargetkan cakupan bantuan dapat diperluas hingga 15 desa yang mengalami dampak kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Karawang, Usep Supriatna, mengatakan distribusi air bersih diprioritaskan bagi wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan sumber air untuk kebutuhan sehari-hari.
“Distribusi air bersih menyasar 11 desa di lima kecamatan terdampak, dengan target perluasan cakupan hingga 15 desa,” kata Usep, Rabu (26/8/2026).
PHE ONWJ Salurkan 92 Ribu Liter Air Bersih
Usep menjelaskan, PHE ONWJ memasok bantuan air bersih sebanyak 92 ribu liter untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak kekeringan.
Penyaluran tahap awal dilakukan di Kampung Cibeureum, Desa Jatilaksana, Kecamatan Pangkalan. Dalam kegiatan tersebut, BPBD mengerahkan satu unit mobil tangki air bersih dengan kapasitas 5.000 liter.
Menurut Usep, kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam menghadapi bencana kekeringan, terutama ketika kebutuhan masyarakat terus meningkat.
“Penanganan bencana semacam ini harus mengusung konsep kolaborasi pentahelix agar hasil yang didapatkan bisa maksimal. Kolaborasi kami dengan pihak swasta ataupun BUMN seperti Pertamina dalam memberikan bantuan air bersih, khususnya bagi yang terdampak kekeringan di Karawang Selatan,” ujarnya.
BPBD Karawang mengapresiasi dukungan PHE ONWJ dalam membantu masyarakat yang mengalami krisis air bersih.
Selain bantuan darurat, BPBD berharap kolaborasi tersebut dapat diarahkan pada program jangka panjang untuk mengurangi risiko kekeringan, di antaranya melalui pipanisasi, pengeboran sumber air tanah, dan pembangunan sumur resapan.
Warga Harus Antre Air hingga Dini Hari
Sementara itu, Manager Communication, Relations, & CID Pertamina Regional Jawa, Pinto Budi Bowo Laksono, mengatakan penyaluran air bersih merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap masyarakat di sekitar wilayah operasional.
“Kami menyadari betul dampak serius dari kemarau panjang bagi masyarakat. Melalui sinergi bersama BPBD, PHE ONWJ berkomitmen hadir untuk meringankan beban warga dengan memastikan kebutuhan dasar seperti air bersih dapat terpenuhi dengan cepat dan tepat sasaran,” kata Pinto.
Bantuan tersebut disambut antusias warga Kampung Cibeureum yang mengaku telah mengalami kesulitan mendapatkan air bersih selama beberapa bulan.
Aisyah, salah seorang warga setempat, mengatakan kondisi kekeringan tahun ini terasa lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Selama sekitar tiga bulan terakhir, warga harus mengambil air dari sumber yang lokasinya cukup jauh. Bahkan, mereka harus mengantre sejak dini hari untuk mendapatkan air.
“Kekeringan tahun ini lebih parah. Biasanya kami mengambil dari sumber air yang jauh, di lokasi dekat area sawah di bagian dalam. Bahkan harus mengantre dari jam 2 malam sampai pagi. Kami membawa jeriken naik motor, bolak-balik sampai lima kali sehari,” ungkap Aisyah.
Ia mengaku bersyukur bantuan air bersih dari PHE ONWJ dan BPBD dapat langsung dimanfaatkan masyarakat.
“Kami sangat bersyukur dan mengucapkan terima kasih banyak kepada Pertamina dan BPBD atas bantuan air bersih ini. Bantuan ini sangat membantu kami, jadi tidak perlu lagi antre dan pergi ke tempat yang jauh,” tuturnya.
Distribusi air bersih tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar warga selama kondisi kekeringan berlangsung. Di sisi lain, langkah jangka panjang seperti pembangunan jaringan perpipaan dan penguatan sumber air di wilayah rawan kekeringan dinilai penting agar persoalan krisis air tidak terus berulang setiap musim kemarau.
(Lenie Tanjung)